RSS Feed

PUASA MENAJAMKAN FIRASAT (Bag. 2)

Firasat dapat berupa cara memandang dan cara memutuskan suatu perkara atau mencarikan jalan keluar untuk selamat dari ujian dan bahaya berdasarkan pengetahuan yang didasari keimanan. Firasat juga dapat mendorong seseorang untuk berusaha meningkatkan derajat dirinya. Al-Quran menyebut orang yang memiliki intuisi atau firasat yang benar dan tajam dengan istilah “mutawassimin ”.

Terminologi psikologi menyebut firasat dengan intuisi, yaitu kemampuan alamiah (a natural ability ) untuk mengetahui sesuatu tanpa bukti (evidence ). Sebagian pakar menyebutnya feeling , yaitu perasaan yang memandu seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu tanpa sepenuhnya memahami mengapa sesuatu yang terjadi. Dasarnya adalah bisikan hati atau gerak hati tanpa dipikirkan atau dipelajari.

Walaupun nampak identik, firasat dengan intuisi memiliki perbedaan yang esensial. Secara filosofis, pengetahuan dalam intuisi didasari pengalaman intelektual yang berulang-ulang. Sedang firasat didasari ilmu dan iman terhadap kekuatan yang Mahagung, yaitu kekuasaan Allah atas segenap alam raya dan seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Firasat tidak bisa dipelajari apalagi diwariskan. Secara alamiah, dengan izin Allah firasat akan semakin tajam seiring dengan meningkatnya derajat iman dan takwa seseorang. Firasat bukan senjata pamungkas yang sewaktu-waktu bisa dipanggil. Orang yang firasat yang benar tidak akan mengaku-aku dirinya memiliki kemampuan supranatural. Tidak akan menawarkan kepada orang lain untuk mendapatkan transfer kemampuannya tersebut apalagi diperjualbelikan. Firasat yang benar ada pada pertolongan Allah bagi orang yang benar-benar beriman dan bertakwa kepada-Nya

Momentun shaum (puasa) di bulan Ramadhan adalah salah satu wahana untuk menajamkan firasat dalam fitrah keimanan menuju derajat ketakwaan yang tertinggi. Tujuan dari shaum adalah ketakwaan. Ketakwaan hanya dapat diperoleh oleh orang yang beriman. Tanpa iman, takwa tidak mungkin didapatkan.

Takwa adalah tameng (wiqayah ) yang berfungsi preventif untuk mencegah azab Allah. Shaum juga tameng (junnah ) dari api neraka. Sungguh dua hal yang sangat relevan. Selaras untuk satu tujuan. Saling menguatkan untuk satu kesatuan. Shaum berbuah takwa. Ketakwaan berbuah firasat yang benar dan tajam.

Tempaan yang Allah berikan berupaya kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan, jika disikapi dengan iman dan diniatkan untuk menaati perintah dan melaksanakan kewajiban, maka Allah akan menjadikan dalam diri seseorang penghalang bagi segala mara bahaya. Jika kewajiban berpuasa dihiasi dengan harapan untuk mendapat pahala, maka Allah akan memberikan pertolongan kepada siapa saja yang dikasihi dengan kebaikan-Nya. Maka kasih sayang, perlindungan, dan pertolongan Allah di mana saja seseorang berada, itulah hakikat dari firasat. 

Artikel ini dimuat juga di Harian Radar Garut, Selasa, 23 Juni 2015

Tue, 23 Jun 2015 @16:52


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 4+5+2

Welcome
image

Daris Tamin

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Copyright © 2018 daristamin.com · All Rights Reserved