RSS Feed

Terapi Kognitif Melalui Tadabbur Alquran

Tadabbur Alquran adalah merupakan kunci pengetahuan dan pintu untuk melakukan tindakan (action) yang tepat. Tadabbur merupakan proses merenungkan dan berpikir mendalam yang berhubungan dengan perbuatan ketika membaca ayat-ayat kauniyyah yang nampak dan membaca ayat-ayat Quraniyyah melalui tulisan untuk diambil ibrohnya. Ibnu Mas’ud (Syawqi, 2009: 285) bertutur, “Tsūrul-Qurāna fainnā fīhi ‘ilmul-awwalīna wal-ākhirīna [inspirasikan Alquran karena di dalamnya terdapat ilmu orang-orang terdahulu dan yang akan datang].” Dalam Alquran terdapat lampu-lampu sebagaimana lampu-lampu yang menerangi jalanan. Siapa saja yang telah menemukan lampu-lampu tersebut, maka ia akan berpegang pada cahayanya. Adapun yang belum menemukannya, maka ia harus mencarinya, kecuali jika ia ingin tetap dalam kegelapan.

Aktivitas tadabbur Alquran memfungsikan lima aspek, antara lain: (1) al-idrāku, yaitu menajamkan kognisi; (2) at-tadzakkur, yaitu menata ulang ingatan; (3) adz-dzaka-u, yaitu mengasah intelektual; (4) at-tafkīr, yaitu berpikir analitik, reflektif, serta kontemplatif; dan (5) at-takhayyal, yaitu berpikir visioner atau berpikir ke depan. Dalam bahasa psikologi konseling, aktivitas-aktivitas tersebut termasuk pada wilayah kognitif dan rasional. 

Berkaitan dengan aktivitas berpikir dalam proses tadabbur Alquran, Al-Umar (2013: 155) menjelaskan beberapa istilah yang memiliki perbedaan, antara lain: (1) at-ta-ammul, artinya merenungi, maksudnya menatapkan hati terhadap makna-maknanya; (2) at-tafakkur, artinya berpikir; dan (3) at-ta’aqqul, artinya menggunakan akal atau rasio. Proses tadabbur Alquran adalah menyatukan ketiga aktivitas tersebut secara menyeluruh untuk sehingga sampai pada tujuan terjauh dan ujung paling akhir dari makna ayat.

Mencermati aktivitas-aktivitas kognitif dalam proses tadabbur Alquran, terdapat dorongan untuk menggunakan potensi akal manusia untuk menemukan makna-makna terdalam dari Alquran. Sebagaimana diketahui, manusia diberkahi potensi akal untuk memikirkan segala sesuatu yang nampak di alam raya dan yang tertulis dalam Kitabullah. Proses tadabbur pada hakikatnya adalah upaya untuk mengerahkan kemampuan berpikir dalam menemukan cahaya, dalam arti cara untuk mengembangkan potensi yang lain dan mengatasi masalah-masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupannya.

Berpikir merupakan penciri manusia yang membedakannya dengan makhluk lain. Manusia disebut anima intelectiva karena berpikirnya mampu memutuskan suatu tindakan yang lebih dinamis dibandingkan makhluk lainnya. Pada saat menerima stimulus, manusia tidak sekonyong-konyong merespon tetapi akan menghubungkan peristiwa yang sedang diinderanya dengan peristiwa-peristiwa lainnya sebagai pengalaman secara asosiatif dalam proses berpikir. Manusia akan membuat pertimbangan, menyusun asumsi, dan berpikir mendalam sebelum memutuskan suatu tindakan. Penciri inilah yang membedakan manusia dengan binatang atau makhluk lainnya.

Ketidakoptimalan fungsi berpikir atau bahkan ketidakberfungsiaan proses berpikir akan mengakibatkan munculnya banyak masalah dalam kehidupan manusia. Terjadinya penyimpangan perilaku juga disebabkan salah satunya oleh penyimpangan fungsi berpikir. Oleh sebab itu, dalam konteks praksis konseling dan psikoterapi muncul beberapa pendekatan konseling untuk membantu konseli mengembangkan strategi dalam memodifikasi ketidakberfungsian pola pikir atau kognisi.

Berdasarkan tujuan dan formulanya, tadabbur Alquran merupakan wahana untuk memberdayakan potensi kognisi. Melalui tadabbur Alquran, seseorang dibawa berpikir jernih, logis, rasional, analitik, dan visioner sebelum memutuskan suatu tindakan. Tujuannya yang ingin dicapai oleh tadabbur Alquran adalah kondisi yang lebih baik, perilaku yang lebih positif dan efektif. Intinya, kehidupan yang lebih bahagia, dipenuhi kedamaian, dan menenteramkan lahir serta batin.

Berpikir dan merenung secara mendalam dengan menyatukan pikiran dan perasaan untuk mengungkap hakikat suatu objek atau sebuah masalah merupakan ciri dari tadabbur. Proses perenungan secara mendalam biasanya disebut kontemplasi. Baker (1999: 4) menyebut kontemplasi sebagai kearifan suci dapat dilakukan melalui latihan-latihan spiritual, salah satunya melalui reading spiritual books (membaca buku spiritual). Cohen (Miller, 2003: 201) menyebut proses ini dengan istilah bibliotherapy.

Proses terapi kognitif melalui tadabbur Alquran dilakukan dengan tiga interaksi fundamental antara pembaca dengan Alquran: (1) identifikasi, yaitu menghubungkan antara pembaca dengan karakter atau situasi dalam bacaan; (2) katarsis, yaitu pembaca menempatkan dirinya seolah-olah mengalami sendiri motivasi dan segala konflik yang terjadi dalam ayat yang dibacanya; dan (3) insight, yaitu pengetahuan atau persepsi mendalam yang terjadi ketika pembaca melihat dirinya tergambarkan dalam ayat yang dibacanya.

Masalah-masalah problematik yang berujung pada ketidakbahagiaan hidup diawali oleh tidak berfungsinya akal sehat. Alquran dikalamkan oleh Allah sesuai dengan fitrah penciptaan dan pasti dapat diterima oleh akal sehat manusia. Mentadabburi Alquran hakikatnya menggali inspirasi di balik makna-makna terdalam agar pikiran manusia tetap jernih sesuai fitrahnya. Jika akal sehat berfungsi, manusia akan selalu bahagia. Oleh sebab itu, bacalah Alquran disertai tadabbur!

 

Fri, 18 May 2018 @09:49


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Daris Tamin

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Copyright © 2018 daristamin.com · All Rights Reserved