RSS Feed

Ikhtiar Menjadikan Anak Wasilah Cinta Ilahi (2)

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (QS. Al-Mujadilah [58]: 22).

(yaitu) surga-surga ‘And, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang-orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (QS. Ar-Ra’du [13]: 23).

Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. Ath-Thuur [52]: 21).

Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ghafir [40]: 8).

Dalil Hadis

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya dan doa anak yang shalih (HR. Muslim no. 1631).

Sesungguhnya seseorang benar-benar diangkat derajatnya di surga lalu dia pun bertanya, ‘Dari mana ini?’ Dijawab, ‘Karena istigfar anakmu untukmu. (Sunan Ibnu Majah no. 3660, dinilai hasan oleh Al-Arnauth dalam tahqiq Musnad Ahmad).

Ikhtiar pertama, Taqarrub kepada Allah untuk melawan hawa nafsu syaithoni

Taqarrub kepada Allah, yaitu mendekatkan dan menghubungkan diri kepada Allah agar senantiasa diberi kekuatan untuk melawan dorongan hawa nafsu syaithoni. Mendekatkan diri kepada Allah tidak terbatasi ruang dan waktu. Kapan dan di mana saja tidak boleh terputus untuk selalu terkoneksi dengan Allah. Tidak boleh sedetik pun lepas dari melibatkan Allah dalam segala urusan. Sebab, sekali saja koneksi dengan Allah diputuskan, maka boleh jadi pertolongan Allah hilang dan pemutus itu akan dibiarkan sendiri untuk menyelesaikan masalahnya.

Hawa nafsu adalah kecondongan kepada sesuatu sesuai dengan keinginan atau hasratnya. Demikian Ibnul Qoyyim memberikan definisi. Kecondongan kepada sesuatu dapat juga terjadi secara mutlak. Termasuk kecondongan kepada kebenaran. Hawa nafsu diciptakan agar manusia mampu menjaga kelangsungan hidupnya. Sebab, jika tidak ada dorongan untuk makan, minum, dan menikah, tentu manusia akan mati dan punah.

Hawa nafsu adalah pendorong agar manusia mengambil manfaat untuk memenuhi kebutuhannya. Namun, banyak di antaranya yang tidak mencukupkan diri dan akhirnya berlebihan hingga membuka ruang kendali hawa nafsu dipegang oleh kekuatan setan. Inilah awal dari malapteka dalam hidup.

Agar mampu mengendalikan hawa nafsu untuk tetap pada fitrahnya, maka pertolongan Allah sangat dibutuhkan. Salah satu jalan datangnya pertolongan Allah adalah dengan mendekatkan diri dan selalu terkoneksi dengan Allah dalam segala kesempatan. Kedekatan dan koneksi dalam tali tauhid yang murni.

Thu, 9 Jan 2020 @09:36


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Daris Tamin

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Copyright © 2020 daristamin.com · All Rights Reserved