RSS Feed

Terapi Psikologi Agama untuk Perilaku Cabul

Tindak pencabulan atau pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak-anak merupakan kejahatan yang sangat berat. Maraknya kasus pelecehan seksual yang diberitakan media akhir-akhir ini sesungguhnya lebih kecil dibandingkan dengan kasus yang tidak atau belum terpublikasi. Ibarat fenomena gunung es, tampak kecil di permukaan tetapi sesungguhnya besar di kedalaman. Secara sosial, maraknya kasus seperti ini menggambarkan kondisi masyarakat yang sedang sakit. Terlebih, sebagian kasus yang terjadi dilakukan oleh oknum pendidik di lingkungan pendidikan bahkan pendidikan agama, maka penyakitnya sudah teramat akut.

Semua pihak tentunya sepakat bahwa penyelesaian masalah ini harus melibatkan semua unsur dalam masyarakat. Kontribusi yang diberikan tentu disesuaikan dengan fungsi dan keahlian masing-masing. Kesalingterkaitan dari berbagai analisa akan menghasilkan suatu cara penyelesaian masalah yang efektif.   

Perspektif psikologi menjelaskan beberapa teori tentang penyimpangan perilaku, termasuk yang terkategori kejahatan. Sigmund Freud dalam perspektif Psikoanalisa berpandangan bahwa penyimpangan perilaku terjadi karena adanya ketidakseimbangan hubungan antara Id, Ego dan Superego. Id yang berlebihan mendesak individu untuk memuaskan hasrat biologisnya. Jika cara legal tidak dapat ditempuh maka cara ilegal akan dilakukannya. Adapun superego yang berlebihan mengakibatkan individu merasa bersalah yang berlebihan. Perasaan bersalah tanpa alasan ini mendorong keinginan untuk dihukum sehingga ia melakukan kejahatan. Kejahatan dilakukan untuk meredakan superego. Adapun keinginan dihukum muncul untuk menghilangkan rasa bersalah.

Albert Bandura berpandangan bahwa penyimpangan perilaku adalah hasil proses belajar sosial. Secara psikologis, mekanismenya didapatkan melalui peniruan perilaku menyimpangan atau kejahatan yang dilakukan oleh orang di sekitarnya. Pengulangan perilaku menyimpang terjadi karena adanya penguatan yang mendukung peniruan perilaku dilihatnya. Seorang anak mencuri boleh jadi karena melihat orang tuanya mencuri. Anak mendapat reward positif karena mencuri ia punya uang untuk bersenang-senang. Pengalaman masa kecil, pola asuh, dan situasi yang terjadi dalam keluarga dan sistem sosial di sekitarnya juga berkontribusi melahirkan perilaku menyimpang. Walaupun demikian, Bandura percaya bahwa manusia memiliki kapasitas berpikir aktif untuk memutuskan meniru atau tidak meniru perilaku yang diamatinya dari lingkungan sosial mereka terdekat mereka.

Penyimpangan perilaku sebagai hasil belajar sosial berkorelasi dengan teori Behaviorisme. Perilaku menyimpang dapat terjadi karena didukung oleh kombinasi antara penguatan sosial, modeling, pengertian melalui asosiasi yang salah, tidak adanya efek buruk bagi pelaku dan atau sanksi negatif dari lingkungan sosial dan hukum yang menjerakan.

Dalam perspektif Behaviorisme juga dapat dijelaskan bahwa rewards dan modeling sangat berpengaruh bagi jutaan manusia setiap harinya bahkan untuk para pelaku kejahatan. Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah kemudahan akses berbagai informasi tanpa batas. Tayangan televisi, film,bahkan berita-berita kriminal menjadi semacam model bagi masyarakat untuk mendapatkan inspirasi dan mengimitasi. Selain belajar melalui interaksi dengan kelompok-kelompok sosial, individu juga belajar mengamati melalui media. Pengamatan merupakan proses belajar yang biasa tapi sangat berpengaruh.

Pandangan psikologi kognitif menjelaskan bahwa penyimpangan perilaku disebabkan oleh distorsi kognisi. Pelaku salah memahami tentang hakikat, dunia, laki-laki, wanita, dan anak-anak. Wanita dan anak-anak dipahami sebagai makhluk seksual. Para pelaku beralasan bahwa tindakannya dipicu oleh keinginan korban untuk dilecehkan, dicabuli, dan diperkosa. Pelaku juga mempersepsi dunia sebagai hukum rimba, yang kuat berhak untuk menguasai yang lemah.

Psikologi agama memandang dari sudut pandang yang berbeda tetapi lebih komprehensif. Penyimpangan perilaku dan kejahatan menggambarkan lemahnya kekuatan spiritual-religi individu. Kekuatan tersebut memiliki banyak dimensi. Muara dari semua dimensi tersebut adalah ilmu (knowlegde) dan iman (belief). Dalam dimensi iman terdapat aspek muraqabah (surveillance), yaitu merasa dirinya diawasi oleh Sang Maha Pencipta. Kelemahan pada aspek ini memicu manusia bertindak melanggar batas.

Dalam kehidupannya, manusia akan menghadapi situasi yang bertentangan dengan akal sehat dan keimanan. Ini adalah sunnatullah (The law of Allah). Allah, Tuhan Sang Pencipta berkehendak menguji manusia untuk mendapatkan hamba-Nya yang terpilih karena amal terbaiknya (best in deed). Menghadapi ujian tersebut, kewajiban manusia adalah bertahan dan tidak meledakkan gejolak hawa nafsu yang ditunggangi kekuatan eksternal, yaitu syetan. Kekuatan menahan gejolak jiwa inilah yang disebut sabar.

Pendekatan normatif harus diupayakan oleh semua unsur untuk untuk mengembangkan sabar menjadi karakter bajik bagi masyarakat dan bangsa. Karakter sabar akan menjadi perisai yang kuat untuk menghalau serangan keburukan, baik yang muncul dari diri individu maupun dari luar diri individu. Penggaliannya dapat merujuk pada Kalamullah karena manusia diciptakan terikat oleh Kalamullah. Pengembangannya membutuhkan dukungan lingkungan (milieu) yang terkontrol secara intensif.

Sat, 25 Jan 2020 @13:03


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Daris Tamin

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Copyright © 2020 daristamin.com · All Rights Reserved